Kamis, 29 Juni 2017

Saya BISA, Kamu BISA! (Part 4-End)


Part 8: Kesimpulan
1.   Tidak ada alasan tidak dapat memulai berolahraga karena sibuk. Saya Bisa! Anda Bisa! Semua Bisa!
2.   Sempatkan waktu, setiap tiga hari harus berolahraga. Mulai dari aktivitas paling ringan, tetapi rutin.
3.    Bergabunglah dengan teman-teman yang sudah terlebih dahulu menggeluti olahraga yang nantinya akan Anda pilih. Adanya dukungan baik keilmuan maupun tentang alat yang akan dipakai, sampai dukungan moral dan ajakan untuk latihan bersama akan meningkatkan semangat untuk terus berlatih.
4.    Pantau terus kemajuan (dan kemunduran) Anda untuk dilakukan evaluasi dan akhirnya bisa melakukan sesuatu yang lebih baik.

Saya BISA, Kamu BISA! (Part 3)


Part 6: Memulai Berlari
Karena kesibukan dan seringnya saya travelling untuk alasan kantor, mengikuti symposium di luar kota, pelatihan dan berbagai alasan lain,saya merasa tidak cukup praktis membawa sepeda kemanapun saya pergi. Sebetulnya bisa sih karena sudah membeli bike box, tetapi tidak praktis dan persiapannya cukup ribet. Akhirnya saya mencoba lari, olahraga yang praktis dan mudah. Cukup bawa saja sepatu lari, beres!
Pada tanggal 25 Juli 2016, setahun dan satu bulan setelah memulai bersepeda, saya mulai mencoba berlari 5km. Jarak 5km ini saya tempuh dalam 40 menit 23 detik. Lagi-lagi paru-paru terasa seperti terbakar, kaki terasa sakit semua, persis saat awal memulai bersepeda. Tapi saya tidak menyerah, dan mengulangi lagi step by step seperti saya memulai bersepeda, mencari sumber berbasis ilmiah, menyusun rencana dan mengeksekusi.

Saya BISA, Kamu BISA! (Part 2)


Part 3: The Plan!
Inspirasi dari teman-teman YSCC dan bergabung dengan Whatsapp group YSCC mengubah hidup saya. Mulailah saya membaca banyak tentang pola latihan yang benar, buku, jurnal, artikel, YouTube, majalah sampai ke toko sepeda sana sini pun saya jabani demi mendapatkan jawaban terbaik untuk menyusun rencana.
Pada saat itu rencana saya cukup simple. Minimal setiap 3 hari harus berlatih dan mengatur pola makan. Sesibuk apapun, saya berusaha tetap menjaga komitmen. Jam 5 pagi pun saya harus tetap bersepeda,walau hanya 30-60 menit saja. Alhamdulillah dengan pola ini, berat badan saya bisa turun hingga 17 kg.  Sudah tidak ada lagi sleep apneu, apalagi ngorok. Beberapa bulan setelah perjumpaan dengan YSCC itu, akhirnya saya bisa tersenyum mengikuti kecepatan mereka.

Saya BISA, Kamu BISA! (Part 1)


Hari ini menandai tepat dua tahun perjalanan saya setelah memulai berolahraga (lagi), Alhamdulillah saya berkesempatan menulis catatan perjalanan ini.
Tepat dua tahun yang lalu, 28 Juni 2015, di hari ke-11 Ramadhan 1436H, saya bertekad bulat untuk kembali berolahraga karena terinspirasi dr. Achmadi, SpOG, teman sepeda saya yang tetap istiqomah bersepeda sejak 2009. Awalnya ia justru yang terkena racun dari saya hingga akhirnya menjadi cyclist yang sangat luar biasa. Saya sendiri sempat meninggalkan aktivitas ini karena kesibukan menyelesaikan pendidikan dokter spesialis kandungan (yang pada akhirnya saya sadari hanyalah alasan belaka :p). 

Senin, 02 Mei 2016

HAD-Lander Metamorphosis Cyclist


Sebagai awalan

Kebiasaan bersepeda saya sebenarnya sudah dimulai sejak SD sebagai sarana transportasi pulang pergi sekolah. Mulai sepeda mini, BMX, sepeda balap dan sepeda jengki, pernah saya pakai saat sekolah. Namun sejak kelas 2 SMA saya kemudian banyak berkendara pakai motor.


Polygon premiere 1.0

Hobi bersepeda muncul kembali semenjak saya menjadi Residen Pendidikan Spesialis Kebidanan RS Dr Soetomo, sekitar tahun 2006-2007. Saat itu, beberapa senior (Supervisor & Konsulen–red) dengan kami yang berstatus Residen membuat komunitas bersepeda yang dinamakan Obgyn Cycling Club (OCC). Selain saya, yang bergabung saat itu dan bahkan sampai saat ini masih bersepeda adalah sahabat saya, dr. Hari Nugroho dan dr. Dwinanto. Bahkan mas TOM (begitu biasa saya memanggil dr. Dwinanto) sering bersepeda bareng saat bergabung di komunitas Bikeberry, maupun saat mencoba trek-trek off-road

Stages Power Meter, The Review (3-end)

Apakah Power Meter Hanya Berguna di Jalan?

Salah satu pertimbangan terbesar saya untuk membeli power meter adalah seringnya saya berlatih dengan indoor trainer dengan ZWIFT. Saya memakai Jet Fluid Pro Trainer dari CycloOps sejak 6 bulan yang lalu mungkin, era pre-ZWIFT dimana saya hanya memakai trainer dan mendengarkan lagu di headphone dan kipas angin demi melawan bosan, setelah itu sejak saya tahu di youtube banyak yang share video real untuk indoor training mulai agak lumayan seru dikit, dikit banget, tapi lumayanlah hehehe..

Stages Power Meter, The Review! (2)

Kenapa sih butuh Power Meter?

Kesimpulan dari yang saya googling adalah, power meter bisa mengetahui dengan pasti berapa power Anda, jelas lah, namanya juga power meter, tapi di sisi lain, power meter ini bisa mengetahui FTP (Functional Threshold Power) Anda, yaitu berapa besar power maksimal yang Anda dapat keluarkan dalam waktu satu jam. Dari perhitungan, juga bisa diketahui berapa power yang dapat Anda pertahankan dalam satuan waktu tertentu, misalnya 1 menit, 5 menit, 20 menit, hingga 10 jam bahkan dari grafik yang saya peroleh. Dari data ini, Anda dapat mengatur ritme bersepeda Anda. Misalnya Anda akan berjalan sekitar 1 jam perjalanan dan dari perhitungan power meter dari beberapa latihan sebelumnya didapatkan FTP 200, maka Anda harus menahan untuk perjalanan 1 jam tersebut maksimal 200 watt, kalau berjalan cuma 100 watt sayang, banyak tenaga terbuang, padahal Anda bisa jalan lebih cepat dari itu. Kalau jalannya 400 watt, mungkin dalam waktu 15 menit Anda sudah pingsan dan tidak mampu meneruskan perjalanan tersebut.