Senin, 16 Juli 2018

Road to KOGI 2018 - etape 1



Akhirnya hari yang ditunggu datang juga. Setelah mempersiapkan berbagai hal mulai dari fisik dan mental, termasuk diantaranya yang paling menantang adalah setup sepeda, distribusi muatan, ijin orang tua dan keluarga, serta latihan fisik dalam hal ini handling dalam mengendarai sepeda bermuatan penuh, dalam speed yang variatif, musim yang tidak menentu, sebagai persiapan menghadapi perjalanan yang akan diiringi hembusan angin Pantura Jawa yang terkenal lumayan bikin cyclist goyah badan dan mentalnya.


Beberapa minggu sebelum keberangkatan, tepatnya sejak awal bulan Juli 2018 saya mengutamakan berlatih menggunakan sepeda yang akan saya kendarai untuk membiasakan handling, memahami karakter sepeda ini, kelebihannya serta kekurangannya, serta beberapa sesi di atas indoor trainer untuk berlatih endurance, serta beberapa sesi berlatih dibawah terik dan hujan serta kalkulasi serta uji coba nutrisi dan peletakannya di tas yang akan digunakan. 




 
Rogojampi-Bajulmati
Kami start tepat setelah subuh di Rogojampi. Pada sesi awal ini rekan sekaligus pembimbing berlatih, Bambang Sutrisno/ Mbah Gusmbangs memberikan arahan yang spesifik kepada saya (tidak berlaku untuk secara general), dimana sepeda saya belum dilengkapi power meter, maka kendali diutamakan dengan  membatasi zona jantung dibatasi dibawah zona aerobik, dengan cadence maksimum 70 RPM seperti yang sudah saya latih selama beberapa minggu terakhir. Bila momentum dan angin berpihak kepada kami, maka gir ratio disesuaikan untuk menambah laju, demikian pula sebaliknya manakala terasa berat karena tanjakan ataupun angin, saya diminta meringankan gir sebisa mungkin selagi mempertahanakan cadence konstan tapi respon jantung masih dalam zona sub aerobik atau zona warna biru kalau menggunakan piranti Garmin. Ini penting mengingat sepeda yang kami bawa cukup berat, Mbah Bambang mengendarai sepeda dan pannier dengan beban total 40 kg, sementara saya sekitar 30 kg. Cadence yang terlalu rendah akan menyebabkan sepeda sulit sekali dikendarai, sementara cadence yang terlalu tinggi akan menyebabkan kendara tidak efisien dan menghabiskan banyak tenaga untuk mengendalikan core muscles. 


Waduk Bajulmati Baluran


Bajulmati/ Alas Baluran – Karang Tekok– Asembagus
  
Area ini adalah ujian untuk mengendalikan emosi di tanjakan, sembari tetap ajeg mengasup nutrisi. Sedemikian rupa sehingga kendali tetap stabil, memanfaatkan momentum sebisanya. Tantangannya adalah tidak kehilangan stabilitas handling di tanjakan, tidak bonking, dan selalu senang. Kami sangat bersyukur kondisi lalu lintas relatif sepi hingga laju tertinggi pada garmin connect kemudian terevaluasi mencapai lebih dari 70km/jam , walaupun kondisi aspal yang tidak sehalus aspal di Lombok menyebabkan satu bidon terpental lepas dan baru disadari berbelas menit kemudian. Bidon yang satu itu saya relakan, toh hari ini tak akan kembali, dan seumur hidup belum tentu saya bisa merasakan energi sebesar itu.

Panarukan - Sitobondo


Asembagus
  
Kami memutuskan beristirahat cukup lama, bahkan terlalu lama mungkin untuk ukuran road cyclist pada umumnya. Mulai pukul 10 sampai selepas tengah hari. Kami manfaatkan untuk makan pagi menjelang siang, mandi, dan tidur sejenak. Jarak tempuh terbaca 70 km lebih. Hampir setengah dari rencana kendara ini hari.

Rest Area Asembagus
Rest Area Asembagus


Asembagus-Situbondo Kota
  
Ternyata berita cuaca yang menunjukkan UV index level ekstrim bukan isapan jempol. Luar biasa panas meskipun suhu hanya terbaca di kisaran 30-32 derajat celcius. Arm screen saya kenakan. Speed ditahan di kisaran 22-25 km/jam. Kali ini respon jantung sudah di kisaran zona aerobik. Rehat sekali lagi di toko serba ada dalam kota Situbondo. Sekedar numpang ngadem di toko dan bekal ulang air.



Situbondo Kota – Pasir Putih – Pantai Blitok
  
Saya sudah hampir gentar menghadapi panas dan angin. Sempat merasakan sensasi kedinginan karena jersey yang saya basahi di kota tersapu angin di pesisir Pantura Jawa. Sangat membantu saran dari kolega saya, Zuhad Irfan, untuk mengenakan selalu gilllet  Warnanya yang menyolok membantu visibility terhadap pengendara lain, kondisi un-zipp membuatnya tampak berkibar dan menambah visibility, sementara dalam kondisi angin deras, saya memutuskan mengancingkan erat gillet dan bersemangat menebas angin. Sepanjang perjalanan Mbah Bambang kerap mengontrol respon jantung saya dan menyarankan perubahan gir ratio untuk menjaga agar tidak timbul cidera otot serta asupan nutrisi untuk mencegah bonking. 


Pantai Bilitok


Pantai Blitok – Rest Area Utama Raya
  
Sepanjang segment Asembagus sampai Utama Raya satu hal yang saya pelajari dari para pengendara sepeda yang membawa aneka bawaan seperti rumput, buah dan sebagainya: sedemikian rupa berbagi jalan dengan kendaraan bermotor. Mengusahakan agar sepeda melaju tepat di kanan atau pas di atas garis putih batas tepi jalan di sebelah kiri. Handling harus diusahakan secermat mungkin sembari tetap melaju dan mengamati situasi lalu lintas dengan menggunakan lirikan mata dan pendengaran.  Pesan pentingnya jelas: menggunakan headset bermusik saat berkendara di jalur utama seperti ini tentu bukan pilihan bijaksana.


Tempat istirahat di Rest Area SPBU Utama Raya cukup menyenangkan. Aroma pantai dengan tempat makan 24 jam dan tepat berada di pertengahan jarak tempuh total kami  Banyuwangi – Surabaya. Kesepakatan kami terpenuhi, 150km atau pukul 5 sore, maka kami harus stop. Jarak tempuh terbaca 159km (Garmin saya tidak sengaja terpencet save 20 km sebelum lokasi ini). Besok perjalanan akan berlanjut dengan jalur tempuh yang tentunya memiliki kisahnya tersendiri. Semoga kami senantiasa selamat sehat seger waras sampai tujuan. 








Risandi Pradipto

Besuki, Situbondo - Jawa Timur - Indonesia
Senin, 16 Juli 2018
20:41 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar